Arti kata '86' : siap laksanakan (bahasa kode dari kepolisian)
http://kitabgaul.com/word/86
Siap 86, Ndan : Siap laksanakan, Ndan
86 : dimengerti
http://www.kaskus.co.id/thread/51530c498027cf9e3d000001/oh-ternyata-arti-86-gini-toh/
Siap 86 : Siap, dimengerti
Showing posts with label Trending Topik. Show all posts
Showing posts with label Trending Topik. Show all posts
18 December 2014
31 August 2014
AEC 2015 / MEA 2015
| Sumber gambar : http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2014/08/15/ 110024026/Ini.Pesan.SBY.soal.Masyarakat.Ekonomi.ASEAN.2015 |
AEC (ASEAN Economic Community)
disebut juga dengan
MEA (Masyarakat Ekonomi ASEAN)
dikenal juga sebagai
Pasar Bebas ASEAN
AEC adalah bentuk Integrasi Ekonomi ASEAN yang direncanakan akan tercapai pada tahun 2015. Apabila tercapai maka ASEAN akan menjadi pasar tunggal dan berbasis produksi tunggal dimana terjadi arus barang, jasa, investasi, dan tenaga kerja terampil yang bebas, serta arus modal yang lebih bebas di antara Negara ASEAN.
Tujuan AEC / MEA :
- Menjaga stabilitas politik dan keamanan regional ASEAN
- Meningkatkan daya saing kawasan secara keseluruhan di pasar dunia
- Mendorong pertumbuhan ekonomi
- Mengurangi kemiskinan
- Menigkatkan standard hidup penduduk Negara Anggota ASEAN
Sumber :
23 August 2014
Ice Bucket Challenge (IBC)
| NBCNews |
KOMPAS.com - Demam Ice Bucket Challenge (IBC) atau sebuah gerakan menyiram diri sendiri dengan air es sebagai bentuk inisiatif menggalang dana memang sedang menjadi tren di dunia maya.
Banyak pelaku gerakan ini, mulai dari selebriti, tokoh publik, hingga orang biasa yang melakukannya hanya sekadar iseng. Namun, kita harus berhati-hati, pasalnya telah terjadi beberapa kasus telah menunjukkan ada bahaya kesehatan di balik Ice Bucket Challenge.
Risiko IBC pun tak main-main. Belum lama ini, bahkan beredar sebuah video seorang remaja Amerika Serikat bernama Sergio Cardozo yang dilaporkan meninggal di tempat, sehabis melakukan IBC bersama kedua temannya.
Dalam videonya, ia bersama dua temannya melakukan IBC dengan sebuah tong sampah berisi air dingin dan es. Tak lama kemudian, air dituangkan ke atas kepala Sergio dan tong sampah yang digunakan, dijatuhkan.
Meski telah mengenakan helm untuk melindungi kepalanya, Sergio langsung meninggal dunia setelah lehernya mengalami cedera akibat tertimpa tong sampah.
IBC yang berisiko
IBC sendiri adalah sebuah gerakan dengan tujuan yang positif. Gerakan yang dibuat sebagai salah satu kampanye menggalang dana untuk penelitian penyakit ALS atau dikenal dengan Lou Gehrig's Disease ini menantang seseorang untuk menyiram air es di kepalanya dan merekamnya dalam video. Nantinya, video tersebut akan diunggah di internet, disertai dengan donasi sekitar US$ 10 hingga US$ 100.
Namun, kegiatan yang populer di berbagai kalangan ini rupanya bukan tanpa risiko. Meski dianggap sebagai hal yang tak begitu berbahaya, dalam skala kecil, tantangan ini bisa menyebabkan cedera mata, akibat gesekan bongkahan kecil es pada kornea. Pelaku juga berisiko terkena hipotermia karena tekanan air es secara mendadak dan dalam jumlah banyak pada bagian kepala.
Bagi jantung
Siraman air es yang langsung dan mendadak pada kepala juga menyebabkan tubuh shock. Detak jantung pun akan langsung menurun dan menyebabkan ritme kerja jantung terganggu.
Dr Daniel Jurewitz, seorang kardiolog dari Santa Barbara mengungkap, inilah yang kemudian bisa memicu masalah pada kesehatan jantung dan kardiovaskular. "Pada orang-orang tertentu, meski secara tidak langsung, hal ini bisa menyebabkan serangan jantung hingga kematian," Jurewitz menjelaskan.
Pernyataan Jurewitz sendiri didukung oleh Dr Stephen Wealthall. Menurut Wealthall, menyiram air es pada kepala bisa menyebabkan refleks pada saluran udara untuk menutup laring. Akibatnya, detak jantung menjadi lambat, bahkan menyebabkan seseorang berhenti bernapas.
Sumber :www.intisari-online.com
Editor : Lusia Kus Anna
Judul asli : Risiko Kesehatan di Balik Tantangan Mandi Es
Sumber :
08 August 2014
Lembaga Anti Korupsi
Lembaga Pemerintah
KPK
POLRI
Kejaksaan RI
Mahkamah Agung
BPK
BPKP
PPATK
LKPP
Komisi Yudisial
Mahkamah Konstitusi
Lembaga Non Pemerintah
ICW
Info Korupsi
Transparency International Indonesia
Kemitraan
PUKAT
BHACA
Lembaga Internasional
INTERPOL
UNODC
Asset Recovery Centre
Transparency
06 August 2014
Terstruktur Sistematis Masif
Trending topik saat ini adalah : Terstruktur Sistematis Masif
Ada 2 versi TT ini, yaitu :
Terstruktur Sistematis Masif, versi 1 (versi serius)
Istilah ini sangat terkait dengan upaya pemenangan pemilu secara tidak benar.
"...
Abstrak
Mahkamah Konstiusi (MK) dalam menangani sengketa Pemilukada telah menciptakan
terobosan guna memajukan demokrasi dan melepaskan diri dari kebiasan praktik
pelangaran sistematis, terstruktur, dan masif (STM). MK tidak hanya menghitung
kembali hasil penghitungan suara tetapi juga harus mengali keadilan dengan menilai dan
mengadil hasil penghitungan yang diperselisihkan. Sebagai penelitan yuridis normatif, penelitan ini mengunakan pendekatan perundang-undangan (statute aproach),
pendekatan kasus (case aproach), dan pendekatan historis serta sosiologi hukum. Hasil
penelitan menujukan bahwa sepanjang 208-201 MK telah mengabulkan sengketa
Pemilukada sebanyak 32 (tiga puluh dua) perkara. Dari jumlah tersebut yang bersifat
STM sebanyak 21 (dua puluh satu) perkara. Sedangkan sifat TSM dalam putusan-putusan
tersebut terbagi menjadi 2 (dua) yaitu kumulatif dan alternatif dimana keduanya dapat
membatalkan hasil Pemilukada. Terdapat 3 (tiga) jenis pelangaran dalam Pemilukada,
pertama, pelangaran dalam proses yang tidak berpengaruh terhadap hasil suara
Pemilukada. Kedua, pelangaran dalam proses Pemilukada yang berpengaruh terhadap
hasil Pemilukada, Ketiga, pelangaran terakait persyaratan menjadi calon yang bersifat
prinsip dan dapat diukur. Pelangaran Pemilukada yang bersifat TSM merupakan
pelangaran yang dilakukan oleh aparat struktural, baik aparat pemerintah maupun aparat
penyelengara Pemilukada secara kolektif bukan aksi individual, direncanakan secara
matang (by design) dan dampak pelangaran ini sangat luas bukan sporadis.
Kata kunci : Pelangaran Pemilukada, Mahkamah Konstiusi, Sistematis, Terstruktur dan
Masif
..."
Simpulan
1. Ada tiga jenis pelangaran menurut Mahkamah, yakni:
a. Pelangaran dalam proses yang tidak berpengaruh atau tidak dapat ditaksir pengaruhnya terhadap hasil suara Pemilu atau Pemilukada seperti pembuatan baliho, kertas simulasi yang mengunakan lambang, dan alat peraga yang tak sesuai dengan tata cara yang telah diatur dalam peraturan perundang-undangan.
b. Pelangaran dalam proses Pemilukada yang berpengaruh terhadap hasil Pemilukada seperti money politc, keterlibatan oknum pejabat atau PNS, dugan pidana Pemilukada, dan sebagainya. Pelangaran yang seperti ini dapat membatalkan hasil Pemilu atau Pemilukada sepanjang berpengaruh secara signifikan terhadap perolehan suara dan terjadi secara terstruktur, sistematis, dan masif yang ukuran-ukuranya telah ditetapkan dalam berbagai putusan Mahkamah, yakni.
- Pelangaran itu bersifat sistematis, artinya pelangaran ini benar-benar direncanakan secara matang (by design);
- Pelangaran itu bersifat terstruktur, artinya pelangaran ini dilakukan oleh aparat struktural, baik aparat pemerintah maupun aparat penyelengara Pemilukada secara kolektif bukan aksi individual;
- Pelangaran itu bersifat masif, artinya dampak pelangaran ini sangat luas dan bukan sporadis.
c. Pelangaran tentang persyaratan menjadi calon yang bersifat prinsip dan dapat diukur (seperti syarat tidak pernah dijatuhi pidana penjara dan syarat keabsahan dukungan bagi calon independen) dapat dijadikan dasar untuk membatalkan hasil Pemilukada karena ada pesertanya yang tidak memenuhi syarat sejak awal.
2. Amar putusan Mahkamah terkait dengan sengketa Pemilukada ada tiga, yakni:
- Dikabulkan, manakala semua petium Pemohon dikabulkan oleh majelis hakim.
- Ditolak, manakala semua petium Pemohon tidak dikabulkan.
- Tidak dapat diterima, manakala Pemohon tidak memenuhi syarat kedudukan hukum (legal standing).
Selain amar-amar putusan tersebut, MK juga mengenal putusan sela terkait dengan penghitungan suara ulang [Pasal 8 ayat (4) PMK 15/208]. Dalam praktik, putusan sela juga tidak hanya dijatuhkan sat MK memerintahkan penghitungan suara ulang, tetapi juga pemungutan suara ulang dan diskualifikasi pasangan calon. Pasca dilakukan pemungutan dan/atau penghitungan suara ulang, MK selanjutnya menjatuhkan putusan akhir atas suatu perkara Pemilukada.
Terstruktur Sistematis Masif, versi 2 (versi bercanda, tapi fakta)
Untuk versi bercanda, begini ceritanya:
Ini adalah pengalaman kami pada Hari Raya Idul Fitri 1435 H (Lebaran 2014) yang lalu, saat kami bersama rombongan bersilaturahmi ke kediaman keluarga, tetangga, kolega. Di sana kami disuguhi berbagai macam jajanan ala lebaran. Namun, ada fakta konkret (bukan indikasi lagi) terkait dengan sistematis terstruktur masif.
Nah, saat itu ada kaleng jajan yang tidak sesuai dengan isinya. Misalkan kaleng biskuit terkenal (maaf, tidak boleh sebut merek), eh la dalah isinya renginan / rangginan. Kaleng butter cookies, isinya kerupuk kentang. Kotak cokelat, tapi isinya madu mongso. Wadah yang tidak terkait dengan "terstruktur sistematis masif" adalah stoples yang transparan, seperti kue nastar, kastengel keju, buah kurma, dll. Memang sih, yang transparan itu jauh dari "terstruktur sistematis masif".
Untuk versi bercanda, begini ceritanya:
Ini adalah pengalaman kami pada Hari Raya Idul Fitri 1435 H (Lebaran 2014) yang lalu, saat kami bersama rombongan bersilaturahmi ke kediaman keluarga, tetangga, kolega. Di sana kami disuguhi berbagai macam jajanan ala lebaran. Namun, ada fakta konkret (bukan indikasi lagi) terkait dengan sistematis terstruktur masif.
Nah, saat itu ada kaleng jajan yang tidak sesuai dengan isinya. Misalkan kaleng biskuit terkenal (maaf, tidak boleh sebut merek), eh la dalah isinya renginan / rangginan. Kaleng butter cookies, isinya kerupuk kentang. Kotak cokelat, tapi isinya madu mongso. Wadah yang tidak terkait dengan "terstruktur sistematis masif" adalah stoples yang transparan, seperti kue nastar, kastengel keju, buah kurma, dll. Memang sih, yang transparan itu jauh dari "terstruktur sistematis masif".
05 August 2014
Dikira Pelihara Tuyul karena Pekerjaan Tak Jelas
Arfi dan Arie, Lulusan SMK yang Ahli Design Engineering Internasional Laporan M. Salsabyl Ad’n, Salatiga |
| DI RUMAH: Arfi’an Fuadi (kiri) dan M. Arie Kurniawan di markas D-Tech Engineering, Salatiga. Kakak beradik ini menggarap proyek dari berbagai negara. (M. Salsabyl Adn) |
Belum banyak yang tahu di kota kecil Salatiga terdapat kakak-beradik yang ahli design engineering (rancang teknik) hebat. Nama mereka, Arfi’an Fuadi dan M. Arie Kurniawan, mulai jadi pembicaraan setelah menang lomba tingkat dunia di Amerika Serikat. Padahal, mereka hanya lulusan SMK.
***
SUASANA ruang tamu di rumah Arfi’an Fuadi, 28, di Jalan Canden, Salatiga, Jawa Tengah, masih dipenuhi nuansa Idul Fitri. Jajanan Lebaran seperti kacang, nastar, dan kue kering memenuhi meja untuk menjamu tamu yang berkunjung.
Di sebelah ruang tamu terdapat ruangan yang lebih kecil. Di dalamnya ada tiga unit komputer. Rupanya, di ruangan kecil itulah Arfi –panggilan Arfi’an Fuadi– bersama sang adik M. Arie Kurniawan dan dua karyawannya mengeksekusi order design engineering dari berbagai negara.
Kiprah dua bersaudara itu di dunia rancang teknik internasional tak perlu diragukan lagi. Tahun lalu Arie memenangi kompetisi tiga dimensi (3D) design engineering untuk jet engine bracket (penggantung mesin jet pesawat) yang diselenggarakan General Electric (GE) Amerika Serikat. Arie mengalahkan sekitar 700 peserta dari 56 negara.
”Lomba ini membuat alat penggantung mesin jet seringan mungkin dengan tetap mempertahankan kekuatan angkut mesin jet seberat 9.500 pon. Saya berhasil mengurangi berat dari 2 kilogram lebih menjadi 327 gram saja. Berkurang 84 persen bobotnya,” ungkap Arie ketika ditemui di rumah kakaknya, Senin (4/8).
Yang membanggakan, Arie mengalahkan para pakar design engineering yang tingkat pendidikannya jauh di atas dirinya. Misalnya, juara kedua diraih seorang PhD dari Swedia yang bekerja di Swedish Air Force. Sedangkan yang nomor tiga lulusan Oxford University yang kini bekerja di Airbus. ”Padahal, saya hanya lulusan SMK Teknik Mekanik Otomotif,” jelas Arie.
Sekilas memang tak masuk akal. Bagaimana bisa seorang lulusan SMK yang belum pernah mendapatkan materi pendidikan CAD (computer aided design) mampu mengalahkan doktor dan mahasiswa S-3 yang bekerja di perusahaan pembuat pesawat? CAD adalah program komputer untuk menggambar suatu produk atau bagian dari suatu produk.
Rupanya, ilmu utak-atik desain teknik itu diperoleh dan didalami Arie dan kakaknya, Arfi, secara otodidak. Hampir setiap hari keduanya melakukan berbagai percobaan menggunakan program di komputernya. Mereka juga belajar dari referensi-referensi yang berserak di berbagai situs tentang design engineering.
”Terus terang dulu komputer saja kami tidak punya. Kami harus belajar komputer di rumah saudara. Lama-lama kami jadi menguasai. Bahkan, para tetangga yang mau beli komputer, sampai kami yang disuruh ke toko untuk memilihkan,” kenang Arfi.
Sebelum menjadi profesional di bidang desain teknik, dua putra keluarga A. Sya’roni itu ternyata harus banting tulang bekerja serabutan membantu ekonomi keluarga. Arfi yang lulusan SMK Negeri 7 Semarang pada 2005 pernah bekerja sebagai tukang cetak foto, di bengkel sepeda motor, sampai jualan susu keliling kampung. Sang adik juga tak jauh berbeda, jadi tukang menurunkan pasir dari truk sampai tukang cuci motor. ”Kami menyadari, penghasilan orang tua kami pas-pasan. Mau tidak mau kami harus bekerja apa saja asal halal,” tutur Arfi.
Baru pada 2009 Arfi bisa menyalurkan bakat dan minatnya di bidang program komputer. Pada 9 Desember tahun itu dia memberanikan diri mendirikan perusahaan di bidang design engineering. Namanya D-Tech Engineering Salatiga. Saksi bisu pendirian perusahaan tersebut adalah komputer AMD 3000+. Komputer itu dibeli dari uang urunan keluarga dan gaji Arfi saat masih bekerja di PT Pos Indonesia.
”Gaji saya waktu itu sekitar Rp 700 ribu sebagai penjaga malam kantor pos. Lalu ada sisa uang beasiswa adik dan dibantu bapak, jadilah saya bisa membeli komputer ini,” kenangnya.
Setelah berdiskusi dengan sang adik, Arfi pun menetapkan bidang 3D design engineering sebagai fokus garapan mereka. Sebab, dia yakin bidang itu booming dalam beberapa tahun ke depan. ”Kami pun langsung belajar secara otodidak aplikasi CAD, perhitungan material dengan FEA (finite element analysis), dan lain-lain,” jelasnya.
Tak lama kemudian, D-Tech menerima order pertama. Setelah mencari di situs freelance, mereka mendapat pesanan desain jarum untuk alat ukur dari pengusaha Jerman. Si pengusaha bersedia membayar USD 10 per set. Sedangkan Arfi hanya mampu mengerjakan desain tiga set jarum selama dua minggu.
”Kalau sekarang mungkin bisa sepuluh menit jadi. Dulu memang lama karena kalau mau download atau kirim e-mail harus ke warnet dulu. Modem kami dulu hanya punya kecepatan 2 kbps. Hanya bisa untuk lihat e-mail.”
Di luar dugaan, garapan D-Tech menuai apresiasi dari si pemesan. Sampai-sampai si pemesan bersedia menambah USD 5 dari kesepakatan harga awal. ”Kami sangat senang mendapat apresiasi seperti itu. Dan itulah yang memotivasi kami untuk terus maju dan berkembang,” tegas Arfi.
Sejak itu order terus mengalir tak pernah sepi. Model desain yang dipesan pun makin beragam. Mulai kandang sapi yang dirakit tanpa paku yang dipesan orang Selandia Baru sampai desain pesawat penyebar pupuk yang dipesan perusahaan Amerika Serikat.
”Pernah ada yang minta desain mobil lama GT40 dengan handling yang sama. Untuk proyek itu, si pemilik sampai harus membongkar komponen mobilnya dan difoto satu-satu untuk kami teliti. Jadi, kami yang menentukan mesin yang harus dibeli, sasisnya model bagaimana dan seterusnya. Hasilnya, kata si pemesan, 95 persen mirip,” jelasnya.
Selama lima tahun ini, D-Tech telah mengerjakan sedikitnya 150 proyek desain. Tentu saja hasil finansial yang diperoleh pun signifikan. Mereka bisa membangun rumah orang tuanya serta membeli mobil. Tapi, di sisi lain, capaian yang cukup mencolok itu sempat mengundang cibiran dan tanda tanya para tetangga.
”Kami dicurigai memelihara tuyul. Soalnya, pekerjaannya tidak jelas, hanya di rumah, tapi kok bisa menghasilkan uang banyak. Mereka tidak tahu pekerjaan dan prestasi yang kami peroleh,” cerita Arfi seraya tertawa.
Sayangnya, dari 150 proyek itu, hanya satu yang dipesan klien dalam negeri. ”Satu-satunya klien Indonesia adalah dari sebuah perusahaan cat. Mereka beberapa kali memesan desain mesin pencampur cat,” lanjutnya.
Meski punya segudang pengalaman dan diakui berbagai perusahaan internasional, Arfi dan Arie masih belum bisa berkiprah di desain teknik Indonesia. Penyebabnya, mereka hanya berijazah SMK. ”Kalau ditanya apakah tidak ingin membantu perusahaan nasional, kami tentu mau. Tapi, apakah mereka mau? Di Indonesia kan yang ditanya pertama kali lulusan apa dan dari universitas mana,” ujarnya.
Stigma ”hanya berijazah SMK” ditambah sistem pendidikan Indonesia yang dinilai kurang adil itulah yang ikut mengandaskan keinginan Arie melanjutkan pendidikan ke jenjang S-1 di Teknik Elektro Universitas Diponegoro (Undip) Semarang. Arie tidak bisa masuk jurusan itu karena hanya lulusan SMK mekanik otomotif.
”Saya ingin kuliah di jurusan itu karena ingin memperdalam ilmu elektro. Kalau mesin saya bisa belajar sendiri. Tapi, saya ditolak karena kata pihak Undip jurusannya tidak sesuai dengan ijazah saya. Padahal, lulusan SMA yang sebenarnya juga tidak sesuai diterima. Ini kan tidak adil namanya,” cetus Arie.
Meski ditolak, Arie tidak kecewa. Bersama sang kakak, dia tetap ingin menunjukkan prestasi yang mengharumkan nama bangsa. Dan itu telah dibuktikan dengan menjuarai kompetisi design engineering di Amerika yang diikuti para ahli dari berbagai negara. Selain itu, mereka tak segan-segan menularkan ilmunya kepada anak-anak muda agar melek teknologi 3D design engineering.
”Ada beberapa anak SMK yang datang ke kami untuk belajar. Sekarang ada yang sudah kerja di bidang itu. Ada juga yang bakal ikut kompetisi Asian Skills Competition sebagai peserta termuda,” jelasnya.
Mereka juga punya keinginan mengembangkan teknologi energi terbarukan. Salah satunya dengan mengembangkan desain pembangkit listrik tenaga angin. ”Kami bekerja sama dengan anak-anak SMK untuk mengembangkan biodiesel dari minyak jelantah. Lalu, Mas Ricky Elson (pembuat mobil listrik yang dibawa Dahlan Iskan dari Jepang, Red) pernah menghubungi lewat Facebook, ingin menjalin kerja sama dengan kami. Tentu saja kami terima,” ungkapnya.
Dengan semua upaya itu, mereka punya satu impian, yakni mengembangkan sumber daya lokal Salatiga untuk menjadikan kota kecil itu pusat pengembangan manufaktur teknologi kelas dunia. Layaknya Silicon Valley di San Francisco, Amerika Serikat.
”Kami ingin membuktikan bahwa Indonesia bisa menjadi pusat industri manufaktur dunia. Terlebih lagi, teknologi 3D printing bakal menjadi tulang punggung industri masa depan. Itulah kenapa 3D design engineering sangat penting,” tandasnya. (*/c9/ari)
Sumber :
http://www.jawapos.com/baca/artikel/5454/Dikira-Pelihara-Tuyul-karena-Pekerjaan-Tak-Jelas-
Subscribe to:
Posts (Atom)