Showing posts with label Inspirasi. Show all posts
Showing posts with label Inspirasi. Show all posts

29 December 2014

Keluar dari Zona Nyaman

Prof Rhenald Kasali
@Rhenald_Kasali

Mungkin inilah yang tidak banyak dimiliki SDM kita: kemampuan untuk keluar dari zona nyaman. Tanpa keterampilan itu, perusahaan-perusahaan Indonesia akan “stuck in the middle,” birokrasi kita sulit “diajak berdansa” menjelajahi dunia baru yang penuh perubahan, dan kaum muda sulit memimpin pembaharuan.

Tidak hanya itu, orang-orang tua juga kesulitan mendidik anak-anaknya agar tabah menghadapi kesulitan. Dengan memberikan pendidikan formal yang cukup atau kehidupan yang nyaman tak berarti mereka menjadi manusia yang terlatih menghadapi perubahan. Apa artinya bergelar S2 kalau penakut, jaringannya terbatas, “lembek”, cepat menyerah dan gemar menyangkal.

Tetapi maaf, ketidakmampuan keluar dari zona nyaman ini bukanlah monopoli kaum muda. Orang-orang tua yang hidupnya mapan dan merasa sudah pandai pun terperangkap di sana. Seperti apakah gejala-gejalanya?

04 July 2014

Jurusan Kuliah Tidak Menjamin Masa Depan


Dalam hidup, ada momen-momen krusial yang kerap bikin bimbang. Ini nih beberapa hal yang bikin galau orang Indonesia:

Kalau gak bisa masuk sekolah favorit, saat memutuskan harus ambil jurusan apa buat kuliah, ditanya kapan nikah, ditanya kapan punya anak, ditanya kapan NAMBAH anak (gak sekalian ditanya kapan mati?)
Yoi, memutuskan harus ambil jurusan apa selepas SMA memang jadi biang kegalauan hampir semua orang. Rasa-rasanya masa depan akan ditentukan dari jurusan yang akan dijalani. Kalau gagal masuk jurusan impian, patah hatinya ngalahin ditolak gebetan yang sudah dikejar bertahun-tahun. Emangnya bener ya, jurusan waktu kuliah memang sangat penting buat kesuksesan kita?


  1. Memilih Jurusan Kadang Cuma Masalah Mana Yang Lebih Keren. Tidak jarang, keputusan untuk memilih jurusan bukan didasarkan pada kemauan pribadi atau sisi praktikal masa depan, melainkan hanya berdasar seberapa keren jurusan tersebut akan terlihat di depan kawan-kawanmu. Selepas lulus dari sekolah menengah atas, kamu cenderung mengesampingkan apakah jurusan yang kamu pilih memang akan berguna di dunia kerja. Selama terlihat keren, kamu pilih aja deh.Jurusan Teknologi Pengolahan Hasil Pangan (TPHP) akan jauh terlihat lebih cupu dibanding Hubungan Internasional. Padahal di dunia kerja yang nyata lulusan TPHP akan banyak dibutuhkan karena industri kreatif Indonesia yang notabene negeri agraris sedang berkembang pesat.
  2. Jurusan Tidak Selalu Identik Dengan Karirmu Kedepan. Sekarang pola penerimaan pegawai sudah berbeda dari beberapa tahun lalu. Nggak cuma mereka yang jurusannya sesuai saja yang bisa melamar. Perusahaan telah memiliki sistem pelatihan yang memungkinkan pelamar dari latar belakang pendidikan berbeda bisa mengejar ketertinggalannya selama proses diklat. Sering kan kamu lihat lulusan teknik malah kerja di bank, anak komunikasi malah kerja di perusahaan tambang? Luasnya kesempatan untuk menjajal lapangan pekerjaan yang berbeda dari jurusan semasa kuliah membuat argumen bahwa jurusan bonafit pasti membuatmu sukses jadi gak valid. Walau sekarang kamu diremehkan karena kuliah di Jurusan Filsafat (yang nggak banyak orang Indonesia tahu belajarnya apa), bukan gak mungkin besok kamu malah diterima bekerja di perusahaan multi-nasional dengan gaji puluhan juta.
  3. Pendidikan S-1 Kita Menyiapkan Lulusan Untuk Jadi Siap Dibentuk. Berkembangnya fenomena bekerja di bidang yang tidak sesuai pendidikan sebenarnya menunjukkan bahwa pendidikan tingkat sarjana kita hanya menyiapkan lulusannya untuk menjadi seseorang yang siap dibentuk menjadi apapun. Kita dibekali dengan kemampuan berpikir kritis, mengungkapkan argumen, melakukan analisis terhadap suatu permasalahan. Semua skill ini diperlukan saat bekerja dimanapun. Alih-alih mempersiapkan lulusannya untuk jadi ahli di bidang yang sedang dipelajari, perguruan tinggi lebih cenderung mempersiapkan lulusannya untuk bisa diterima dimanapun. Perusahaan-lah yang akan bertanggung jawab membentuk seseorang untuk menjadi apa yang mereka butuhkan. Jadi mau kuliah dimanapun kamu sebenarnya kesempatanmu dalam dunia kerja sama aja, kok.
  4. Belum Tentu Ada Pekerjaan Yang Sesuai Dengan Latar Belakang Pendidikanmu. Kamu anak Jurusan Perikanan yang cinta mati sama dunia maritim. Cita-citamu sedari kecil adalah menjadi seorang ilmuwan oseanografi yang meneliti soal ubur-ubur di Pulau Derawan. Tapi kenyataan gak selalu sesuai harapan, Bung! Selepas lulus kamu akan sadar bahwa untuk jadi ilmuwan itu gak gampang. Kamu harus sekolah sampai dapat gelar Ph.D, ikut konferensi internasional, belum lagi ada kewajiban publikasi di jurnal lokal dan internasional. Kondisi masyarakat kita yang terus berubah membuat pilihan karir juga semakin berkembang. Jika 10 tahun lalu social media strategist itu belum ada di daftar pekerjaan bergengsi, sekarang justru lapangan pekerjaan yang berhubungan dengan internet dan industri kreatif sedang berkembang. Mau nggak mau kamu akan menyesuaikan diri dengan tuntutan lapangan pekerjaan. Walau gak sesuai pendidikan tapi kamu mampu dan enjoy ya kenapa enggak?
  5. Jurusan Gak Menentukan Karirmu, Tapi MEMBENTUK Dirimu. Disadari atau tidak, sebenarnya kita semua terlibat dalam proses panjang menemukan diri sendiri. Masa kuliah adalah waktu yang krusial bagi pembentukan identitas diri. Kamu akan masuk ke kelas-kelas yang ajaib dan ilmunya gak bisa diaplikasikan di dunia nyata. Di kehidupan sehari-hari tanpa perlu tahu siapa itu Hobbes dan Machiavelli kamu juga bisa hidup, kok. Apa gunanya pula belajar intervensi kemanusiaan kalau akhirnya kerja di bank? Masa kuliah justru memberimu waktu berpikir, “Akan jadi orang yang seperti apa aku nanti?”. Inilah fungsi penting pendidikan. Bukan memberimu gambaran soal berapa banyak uang yang bisa kamu hasilkan. Tapi menyediakan bahan yang bisa kamu comot sebagai referensi untuk membentuk masa depan yang kamu idamkan. Makanya walau jurusan gak menentukan bagaimana nasibmu kedepan, kamu perlu tetap aktif di kampus agar bisa benar-benar selesai dengan pencarianmu.
  6. Jurusanmu Gak Akan Menentukan Besarnya Pendapatanmu. Anak Teknik Elektro kelihatan keren, ya? Bisa kerja di perusahaan besar, baik nasional maupun multinasional. Tapi emangnya pekerjaan oke selalu identik dengan penghasilan besar? Well, nggak guys! Penghasilan di dunia kerja nggak ada yang bisa memprediksi. Di rekening buku tabungan dia yang kuliah di Jurusan Sastra Jawa malah bisa lebih kaya, kok dari jadi penerjemah lepas. Pendapatan seseorang nggak cuma ditentukan oleh pekerjaanya saja. Selalu ada cara lain yang bisa dilakukan untuk menambah penghasilan, tidak hanya sekedar mengandandalkan gaji. Walau terlihat punya profesi biasa-biasa saja kamu nggak tahu kan kalau omset bisnis sampingannya puluhan juta? Jadi buat kamu yang masih kuliah, jangan pernah kecil hati. Semua orang punya kesempatan yang sama kok untuk berhasil.
  7. Alih-Alih Jurusan, IPK Lebih Penting. Seperti sudah Hipwee bilang di poin kedua, sekarang jurusan apapun punya kesempatan sama untuk melamar di berbagai bidang pekerjaan. Situasi lapangan kerja sudah tidak lagi terkotak-kotak berdasarkan latar belakang keilmuan. Daripada galau karena merasa jurusanmu sedikit dibutuhkan, mendingan fokus aja kuliah dan bagusin IPK-mu. Indeks Prestasi Komulatifmu adalah rekam jejak kinerja yang bisa kamu “jual” ke perusahaan. Ini akan menunjukkan bagaimana konsistennya kamu saat dihadapkan pada sebuah tanggung jawab. Kalau mempertahankan IPK aja gak bisa, gimana mereka bisa mempercayaimu untuk bertanggung jawab pada sebuah proyek besar? Walau nilai bukan segalanya, tapi punya IPK yang baik bisa membantumu dapat kerja yang oke.
  8. Perusahaan Akan Mencari Mereka Yang Berpengalaman, Tanpa Peduli Dari Jurusan Apa. Pengalaman kerja justru akan lebih membantumu mendapatkan pekerjaan, dibanding jurusan yang terlihat mentereng. Misalnya nih, kamu lulusan Jurusan Manajemen dari universitas negeri ternama yang hendak mendaftar jadi account executive sebuah perusahaan. Tapi selama kuliah kamu gak punya pengalaman apa-apa, baik pengalaman kerja maupun berorganisasi. Jangan kaget bila dia yang diterima justru datang dari Jurusan Sejarah. Walau latar belakang pendidikannya gak nyambung tapi dia punya cukup pengalaman marketing selama kuliah dari jadi seksi Usaha Dana kegiatan kampus. Kamu yang masih kuliah banyakin pengalaman organisasi dan kerja ya sebelum bertarung di bursa pencari kerja.
  9. Passion Gak Akan Bisa Dikalahkan Walau datang dari latar belakang pendidikan yang berseberangan, tapi kalau kamu benar-benar punya passion di bidang tersebut yakinlah bahwa kamu tetap akan diperhitungkan. Semangat dan gelora dalam suatu bidang nggak akan bisa ditutupi. Dari jurusan apapun kamu datang, asal punya kemampuan dan passion yang besar — semua kesempatan mungkin mampir ke kamu.
  10. Jurusan Itu Bukan Harga Mati, Selama Kamu Tetap Fleksibel Terhadap Semua Kemungkinan Kalau kamu percaya terhadap kekuatan yang lebih besar darimu, kamu pasti sepakat bahwa tidak ada hal yang terjadi tanpa punya makna. Apapun jurusanmu saat ini, kamu sedang dipersiapkan untuk mengambil sesuatu darinya yang akan bermanfaat bagi masa depanmu kelak.


Mungkin bukan dari pelajarannya secara langsung. Bisa jadi kesempatanmu akan datang dari temanmu, dosenmu, atau dari organisasi yang sedang kamu ikuti. Intinya Jangan pernah merendahkan kesempatan yang datang ke hidupmu. Di jurusan apapun kamu sedang belajar saat ini, always bring your A Game every time

Udah gak galau lagi kan karena kuliah di jurusan yang dianggap kurang menjanjikan? Masa depan itu kamu sendiri yang menentukan kok!







Judul Asli : Ini Alasan Kenapa Jurusan Kuliah Tidak Menjamin Masa Depanmu
Oleh : Nendra Rengganis | Jun 29, 2014
Sumber : http://www.hipwee.com/inspirasi/ini-alasan-kenapa-jurusan-kuliah-tidak-menjamin-masa-depanmu/

08 December 2013

Kerja Lebih


Jangan pernah takut bekerja lebih dari tugas dan kewajibanmu. 
Walau kamu merasa tidak bisa melihat atau merasakan benefit saat ini juga, cepat atau lambat nilaimu akan bergerak sesuai kepantasanmu yang kamu tunjukkan melalui usahamu. 
Usaha rendahmu hanya buktikan kamu pantas dinilai rendah. 

Inspirasi Indonesia
Hingdranata Nikolay


https://www.facebook.com/photo.php?fbid=377466815733175&set=a.102182453261614.4039.100004095784184&type=1

16 November 2013

Coklat Panas


Secangkir Coklat Panas

Sekelompok alumni melakukan reuni, dan kemudian memutuskan untuk pergi mengunjungi profesor favorit mereka yang sudah pensiun. Saat berkunjung, pembicaraan mereka berubah menjadi keluhan mengenai stres pada kehidupan dan pekerjaan mereka.

Profesor itu menyajikan coklat panas (hot chocolate) pada tamu-tamunya. Ia pergi ke dapur dan kembali dengan coklat panas di teko yang besar dan berbagai macam cangkir: porselen, gelas, kristal, dan lain-lain; sebagiannya bagus dan berharga mahal, akan tetapi sebagian lagi bentuknya biasa saja harganya murah. Ia mengatakan kepada mereka untuk mengambil sendiri coklat panas tersebut.


Ketika mereka semua memegang secangkir cokelat panas di tangan mereka, profesor yang bijak berkata, “Perhatikan, semua cangkir yang bagus dan mahal telah diambil. Yang tersisa, hanyalah cangkir yang biasa dan murah. Memang, adalah normal bagi kalian untuk menginginkan yang terbaik. Namun, itu adalah sumber dari masalah dan stres kalian.”

“Cangkir tidak menambahkan kualitas dari coklat panas. Pada kebanyakan kasus, itu hanya menambah mahal, dan bahkan menyembunyikan apa yang kita minum. Apa yang kalian inginkan sebenarnya adalah coklat panas, bukan cangkirnya. Tetapi secara tidak sadar kalian  menginginkan cangkir yang terbaik. Lalu, kalian mulai saling melihat dan membandingkan cangkir kalian masing-masing.”

Para alumni terdiam, menyimak nasehat dari profesor.

“Sekarang pikirkan ini: Kehidupan adalah coklat panas. Pekerjaan, Uang, dan Kedudukan adalah cangkirnya. Itu hanyalah alat untuk memegang dan memuaskan kehidupan. Cangkir yang kau miliki tidak akan menggambarkan, atau mengubah kualitas kehidupan yang kalian miliki.”

“Terkadang, dengan memusatkan perhatian kita hanya pada cangkirnya, kita gagal untuk menikmati coklat panas yang telah Tuhan sediakan bagi kita. Tuhan membuat coklat panasnya, tetapi manusia memilih cangkirnya. Orang-orang yang paling bahagia tidak memiliki semua yang terbaik. Mereka hanya berbuat yang terbaik dari apa yang mereka miliki.”

Profesor itu berhenti sejenak, menghela nafas, lalu melanjutkan, “Hiduplah dengan sederhana. Bermurah hatilah. Perhatikanlah sesama dengan sungguh-sungguh. Dan akhirnya, silakan nikmati coklat panas kalian.”

Salam,

Penulis: Ustadz Adni Kurniawan, Lc.

25 February 2013

Nasehat Orang Terkaya Nomor 3 Dunia

Inilah orang terkaya no 3 di dunia, Warren Buffet memberi nasehat :

"Jauhkan dirimu dari pinjaman bank atau kartu kredit dan berinvestasilah dengan apa yg kau miliki, serta ingat :

1. Uang tidak menciptakan manusia, manusialah yang menciptakan uang.

2. Hiduplah sederhana sebagaimana dirimu sendiri.

3. Jangan melakukan apapun yang dikatakan orang, dengarkan mereka, tapi lakukan apa yang baik saja.

4. Jangan memakai merk, pakailah yang benar˛ nyaman untukmu.

5. Jangan habiskan uang untuk hal-hal yang tidak benar-benar penting.

6. With money:
You can buy a house, but not a home.
You can buy a clock, but not time.
You can buy a bed, but not sleep.
You can buy a book, but not knowledge.
You can get a position, but not respect.
You can buy blood, but not life. So find your happiness inside you.

7. Jika itu telah berhasil dalam hidupmu, berbagilah dan ajarkanlah pada orang lain.

"Orang Yang Berbahagia Bukanlah Orang Yang Hebat Dalam Segala Hal, Tapi Orang Yang Bisa Menemukan Hal Sederhana Dalam Hidupnya dan Mengucap Syukur"



Sumber @ facebook